Bicara Soal Jodoh (?)

Pagi ini saya dapat kabar mengejutkan soal seorang rekan di Salam UI 14 yang satu divisi dengan saya, di divisi Humas, yaitu Sabrina. Kalo bicara soal kabar mengejutkan, yang terlintas di pikiran temen-temen apa kira-kira? Hmm … kuliah di luar negeri? Menang undian berhadiah dari  snack anak-anak? Atau … atau … satu kata yang bisa bikin semua yang dengar berita ini tersenyum kegirangan—atau ekstremnya ber-kya-kya macam saya di status twitter?

Pernikahan.

Yup, Sabrina yang sejatinya setahun di bawah saya, ternyata sudah lebih dulu dipercayakan oleh Allah SWT untuk membina rumah tangga. Yang bikin saya ber-kyaa-kyaaa saat membaca berita tersebut di sebuah grup Facebook adalah calon suami yang mendampinginya kelak. Pemuda itu nggak lain dan nggak bukan adalah senior Sabrina di FKM, lebih khususnya lagi di Nurani (nama LDF-nya FKM). Lebih spesifiknya lagi (yang bikin saya kyaa kyaa), pemuda yang bernama Agung itu adalah salah seorang relawan yang membantu tim PMB Salam UI14 untuk syuting trailer film display Salam UI14. Yap, saya masih bisa mengingat cerita sekilas Sabrina tentang Agung pada saya siang itu, ketika kami kumpul untuk persiapan syuting. Saya masih ingat kalau Agung itu dulu berperan jadi tokoh Revan. Sama sekali nggak terlintas dipikiran saya tentunya bahwa suatu saat Allah akan mempersatukan keduanya dalam pernikahan.  Dan ketika ingat-ingat lagi rasanya jadi pengen senyum-senyum sendiri, hihi. Lucu aja sih kalo mengenang masa itu, ketika kami para akhwat kadang suka ngedumel dengan para ikhwan itu ketika kami sedang syuting. Well tapi Agung orangnya baik dan kooperatif kok :D. Saya jadi bertanya-tanya, adakah suatu rasa yang terbersit dalam hati Sabrina soal Agung kala itu. Yah, nggak harus rasa suka atau semacamnya sih, tapi seperti perasaan bahwa rasanya orang ini kelak akan ada pertalian denganku, atau semacamnya lah.

Kenapa saya nanya begini? Karena barusan aja saya baca blog seorang akhwat lainnya—yang lebih muda dari saya—yang menikah dengan kouhai saya di Prodi Jepang. Ia bercerita melalui blognya, saat melihat sang calon suami yang kala itu baru saja ditemuinya, ia merasa sepertinya ia dan pemuda itu akan ada pertalian di masa yang akan datang, entah apa.

Nah, itu namanya apa ya? Firasat? Atau memang orang-orang yang punya pertalian jodoh memiliki ikatan batin atau apa? Tapi tetep kok yang tahu rahasia masa depan hanya ‘lah Allah SWT semata; Ia sendiri yang telah menjelaskan melalui firman-Nya (lupa surat-nya hehe). Dan akan selalu seperti itu. Tapi kembali ke akhwat yang nikah dengan kouhai saya tadi. Kenapa dia bisa terlintas pikiran seperti itu ya? Apa itu semacam God Sign atau apa—saya kurang paham soal God Sign itu sendiri jadi wallahu’alam >.<.

Jadi mikir lagi ke diri saya sendiri…. Pernah nggak ya saya merasa demikian ke orang yang sudah hadir dalam hidup saya? Ah sudahlah hahaha XD. Tiba-tiba jadi dreamy gini, habis cerita-cerita itu udah kayak di novel-novel atau di drama sih :p.

Yaaaah, kadang hidup ini lebih dramatis daripada cerita fiksi.

CELITA (Celoteh Cingkat)

Celamat coyee ceman-cemaaan XD. HAHAHA, maaf ya kalo tiba-tiba saya jadi geje gini—yakin bukannya emang geje? Yah sudah lah ya, yang penting kita nulis, meski geje, lol. Nggak ada alasan khusus sih kalo tiba-tiba saya pake bahasa balita buat judul postingan ini. Hanya aja saya emang ngerasa udah jaraaaang banget nulis (terutama yang panjang-panjang a la penulis beneran [emang penulis beneran harus selalu nulis panjang ya?]). Bahkan kali ini saya asal tabrak EyD dan kaidah penulisan yang baik dan benar (moso ada kurung kurawal di dalam kurung kurawal? *kemudian diadili Mahkamah Penulis Peduli EyD*).

Sesuai judulnya, celoteh cingkat alias celoteh singkat. Nggak ada banyak hal yang bisa saya jelaskan atau ceritakan saat ini (baca:masih terkena sindrom malas nulis XP). Cuma cerita yang ringan-ringan saja, yang bisa dinikmati sambil menyeduh secangkir teh hangat dan sepotong cupcake (hehe). Senin ini seperti biasa, pergi ke kantor, telat (lagi), dan mengerjakan tugas harian. Yang. Saya. Kerjakan. Selama. Seminggu. Berturut-turut kemarin. Well anyway, bagi saya pekan ini diawali dengan kurang baik. Telat lagi sih huhu. Sampe kantor ga ada yang beda dengan kemarin-kemarin. Nggak ada yang mengomeli karena telat, nggak ada (tapi saya gemes ama diri saya sendiri, beneran). Dan alhamdulillah, meski ini masih awal bulan dan gaji masih cukup mengisi rekening, tapi dengan rencana ini itu dan penghematan ini itu, maka berita makan-makan bareng di kantor menjadi berita pelipur lara. Alhamdulillah, hari ini saya bisa nge-save duit buat makan, hihi(tapi kok ya saya kepingin nyoba Melon Pan menggoda iman yang dijual Bread Life di Penvil ya?). Mood saya agak down setelah makan siang. Karena berbagai hal sih…. Tentang kehidupan… tentang teman…. Tapi saya mau belajar untuk lebih bersyukur dengan kehidupan. Doakan saya ya, hehe :p. Konsisten itu soalnya sulit sih teman :p.

Oh iya, ROLtivasi hari ini saya nyumbang kalimat ini nih (pengumuman, bikin status motivasi ternyata nggak semudah itu buat saya >.<).

“Jika gagal dan salah, jgn menyerah lalu kalah. Mari terus menyemangati diri untuk bangkit, dan bangkit lagi! ^^”

Untuk kita semua yang merasa masih banyak kekurangan dan kekhilafan dalam hidup, mari kita jangan menyerah untuk bangkit lagi, dan bangkit lagi.

Eummm, ini kan niatnya mau jadi celoteh cingkat ya? Tapi kok agak panjang sih Dev? Iya deh iya, saya udahin aja ya hehehe. Mari bersemangat dan jangan menyerah! ^^

P.S.: Saya nulis ini sambil denger lagu buatan temen saya, Sari, judulnya “Karena Masa Depan Tak Terlihat”. Judulnya menurut saya agak suram, ternyata lagunya ceria lho. Dan kata yang buat pun, sebenernya ini lagu yang positif 😀

P.P.S. (halah): Postingan ini telah saya posting sebelumnya di tumblr saya (mari berkunjung ke mari juga XD)

Welcome to The Real World: Society!

(at my Office’s Rooftop–with no Prince on it kekeke)

Hello WordPress, i’m back! Tadinya sih saya kepengen bikin blog baru. But … okay, i’ll still make the new one, in another domain (blogspot perhaps). As for now, just recycle what i already have. Missing me guys? Hehe. Those words are so not me.

Anyway, saya selalu ngerasa bingung mau nulis apa di-blog seperti ini sebenernya. Most of the time, i’ll just curhat. Curhat terooos, tiada henti, hehe. Dan curiganya postingan comeback stage saya di sini juga bakal berbau curhat, sigh. Bear with me please.

Yup as you can read on the title: welcome to the real world. The world called society. Yes people, now i’m officially graduated from UI and has officially added the title “S. Hum” yang kepanjangannya bukan sarjana humor, tapi Sarjana Humaniora. Dan setelah menganggur selama berbulan-bulan, alhamdulillah Kamis 20 Juni 2013 kemarin saya resmi diterima sebagai karyawan sebuah portal berita untuk komunitas Islami yang cukup ternama, Republika Online. Proud? Hamdalah. Tho somethings bugging my head, but i won’t share it here, hehe. Anyway, tetep alhamdulillah karena akhirnya bisa mengecap yang namanya dunia kerja.

Pekerjaan saya sebenarnya tidak terlalu sulit. Ya, social media udah jadi makanan sehari-hari manusia abad ini kan–meski masih belum semua tapi sudah banyak sekali jumlah penggunanya. Dan itulah pekerjaan saya sehari-hari. Berhubungan dengan facebook, twitter, instagram, dan beberapa akun jejaring sosial lainnya. Saya nggak pernah membayangkan sepenuhnya akan bergelut di dunia ini. Bahkan sejujurnya, saya nggak ada gambaran sama sekali mau kerja di bidang apa selepas kuliah kemarin. Gosh, so bad me hehe. Dan pertanyaan, “Emang kamu mau kerja jadi apa?” adalah pertanyaan yang bener-bener menyulitkan buat saya jawab. Sebelum keterima di Republika Online (ROL), saya sudah beberapa kali mengajukan lamaran. Patokan saya sih waktu itu: a. bukan yang ada kaitannya dengan Jejepangan karena saya nyadar diri kemampuan bahasa Jepang saya sangat minim, dan saya bukan tipe yang “nekad” (dan ada lagi alasan “sok idealis”); b. bukan jadi guru (karena memang nggak terlalu minat); c. yang jelas bukan kerja di bidang IPA hehe. Beberapa lowongan sempat menarik minat saya, misalnya saja yang sejujurnya saya ngarep banget itu kerja sebagai semacam event organizer sebuah majalah ternama (miliknya Kompas Gramedia Group kayaknya). Tapi yah, belum rezeki aja kayaknya. Malah lowongan yang nggak saya pake pikir panjang, dan saya ajukan berapa hari sebelum deadline, yang pertama kali memberi kesempatan untuk wawancara kerja. Dan ternyata memang berjodoh dengan saya.

Sebulan sudah kini saya bekerja sebagai staff untuk bidang socmed ROL. Seperti biasa kalo cerita soal pengalaman, akan ada bagian yang bercerita soal suka dan duka. Sejauh ini sih cukup menyenangkan. Duka? Ada sih. Atau tepatnya hal-hal yang sangat mengganggu pikiran. Saya berusaha keras untuk menepis hal-hal itu, dan of course I shall pray and ask for help from Allah SWT.

Tapi yang jelas lingkungan tempat bekerja cukup kondusif, terutama di lantai tempat saya bekerja. Alhamdulillah saya memiliki rekan-rekan kerja yang baik dan menyenangkan. Salah satunya Asti, teman satu kampus dulu–dan juga sama-sama staf buat forum fanfic hihi. Bos saya juga sangat baik dan sabar orangnya, hehe. Pekerjaan saya sendiri, meski ada tantangan juga tentunya, tapi belum terlalu demanding. Dan sebenernya kalau saya mau lebih positif, ada hal-hal baik yang bisa saya pelajari dari pekerjaan saya ini. Selain bisa melatih menggunakan akun jejaring sosial dengan efektif, juga melatih kemampuan marketing dan komunikasi hihi.

Hal yang saya kagumi dari lantai tempat kerja saya ini, mereka selalu salat di awal waktu. Malah kadang (atau bisa dibilang cukup sering) salat setelah adzan berkumandang. Kalau mengingat cerita teman saya yang juga belum lama bekerja, alhamdulillah lingkungan saya yang ini termasuk kondusif. Teman saya itu bahkan kesulitan salat. Jadi masih ada hal yang bisa disyukuri. Dan masih banyak lagi kisah-kisah sedih di hari Minggu lainnya yang datang dari teman-teman lainnya seputar pekerjaan mereka. Ada yang merasa kurang sreg dengan cara kerja di kantornya, dan pastinya ada lagi yang lain.

Saya sendiri? Saya sendiri tentunya punya permasalahan juga, tapi sejauh ini i still can bear it. I pray Allah will give me the strength and guide me.

Phew, sejauh ini cerita saya udah mulai ngelantur belum dari judulnya? Hehe. Dipikir-pikir nulis saya masih payah dan nggak natural. Tapi nggak apa. Yang jelas saya mesti berlatih lagi. Nulis apapun. Mudah-mudahan sih tulisan saya agak lebih berbobot ke depannya. Udah deh yah, saya nggak ngerti lagi mau ngomongin apa.

To put the whole thing in a nut shell, society is pretty much exciting, yet scarry things appeared in my mind. But i think i have few things to enjoy, and one of them the ride (with angkot of course) along the way to my office. Weird? Of course, haha. Most people will get ballistic with Jakarta’s traffic rite? I do sometimes, but it’s a bit weird, i still can enjoy it.

Okay then, good nite.

Me and Co-workers: Teh Bonit (right) and Asti (left)